Seri Belajar Pemrograman #4

Halo😀

Ketemu lagi di seri belajar pemrograman. Kali ini kita akan membahas tentang pemilihan kondisi. Bagi yang baru pertama mampir di halaman ini, silahkan baca juga seri pemrograman yang lain.

Sering kali dalam program kita dihadapkan pada masalah-masalah yang menuntut kita melakukan suatu aksi yang sesuai dengan masalah bersangkutan. Antara satu masalah dengan masalah lain terkadang berbeda dan membutuhkan penyelesaian yang berbeda pula. Nah, bagaimana caranya kita memilah-milah masalah tersebut dan memberikan kondisi yang tepat sesuai dengan masalah yang dihadapi?

Itulah kenapa bahasa pemrograman memiliki fitur selection-condition. Pada dasarnya, selection condition akan menguji apakah masalah tersebut terjadi atau tidak. Jika ya, maka program akan mengeksekusi blok perintah yang dibuat khusus untuk menyelesaikan kondisi tersebut.

Dalam pseudo-code, kita dapat nyatakan penyeleksian kondisi tersebut seperti ini:

jika kondisi maka statement

Dengan kondisi adalah kondisi masalah yang ingin diuji / diperiksa. Kondisi ini dinyatakan benar apabila kondisi tersebut terjadi. Jika kondisi terjadi maka statement akan segera dieksekusi. Bentuk pernyataan ini digunakan apabila statement yang dieksekusi hanya berupa satu baris saja. Lalu bagaimana jika ada banyak baris? Dalam bahasa pemrograman juga dibedakan antara penulisan seleksi kondisi sebaris dan multi-baris. Karena kita akan menyimulasikan hal tersebut maka kita juga akan mengikuti aturan tersebut. Jika statement yang akan dieksekusi bila kondisi terpenuhi mencapai 2 atau lebih baris maka kita dapat gunakan:

jika kondisi maka <

statement-1

statement-2

..

statement-n

>

Bagian yang berada di antara < dan > disebut blok perintah. Blok ini adalah kumpulan perintah yang akan dijalankan bila kondisi terpenuhi.

Lalu bagaimana bila kondisi yang ingin diuji ada 2? Kita dapat menuliskan seperti ini:

jika kondisi maka <

statement-jika-kondisi-terpenuhi

>

lainnya <

statement-jika-kondisi-tidak-terpenuhi

>

Maksud dari pernyataan yang kita tulis dalam pseudo-code di atas adalah kita akan memeriksa apakah kondisi yang kita inginkan terjadi. Jika kondisi terjadi maka secara otomatis program akan mengerjakan statement yang kita siapkan yaitu statement-jika-kondisi-terpenuhi. Namun jika kondisi yang kita periksa tidak terpenuhi maka program akan segera mengeksekusi perintah pada baris yang kita siapkan yaitu statement-jika-kondisi-tidak-terpenuhi.

OK, saya kasih contoh penerapannya. Misal kita punya variabel a dan kita isikan dengan nilai 10. kemudian kita akan periksa kondisi, apakah nilai a >15.

a : angka = 10

jika a >15 maka tulis(“Nilai a lebih dari 15”)

lainnya tulis(“Nilai a kurang dari 15”)

Dari alur program tersebut, program akan terlebih dahulu mendeklarasikan variabel a bertipe angka dengan nilai 10. Kemudian akan diperiksa nilainya apakah lebih dari 15. Jelas kondisi ini tidak terpenuhi karena nilai a sendiri adalah 10 sehingga baris perintah tulis(“Nilai a lebih dari 15”) tidak akan dieksekusi. Sebaliknya baris perintah tulis(“Nilai a kurang dari 15”) yang akan dieksekusi.

Itu salah satu contoh penggunaan penyeleksian kondisi. Lalu bagaimana jika kondisi yang ada lebih dari 2? misal 3. Nggak usah pusing, kita dapat menambahkan perintah jika untuk memeriksa kondisi-kondisi tersebut  .

Contoh: Diberikan variabel a. User akan memasukkan suatu nilai ke dalam variabel tersebut. kemudian kita akan memeriksa apakah nilai tersebut positif, negatif, atau nol?

a : angka

baca(a)

jika a > 0 maka tulis(“Positif”)

lainnya jika a <0 maka tulis(“Negatif”)

lainnya tulis(“Nol”)

Nah kita tau bahwa bilangan hanya dapat berisikan nilai positif, negatif atau 0. Dengan contoh kode di atas kita dapat memeriksa golongan variabel tersebut.

Sebenarnya ada satu cara lagi dalam penyeleksian kondisi. Penyeleksian kondisi yang satu ini didasarkan pada pencocokan nilai, bukan kondisi. Maksudnya? Kalau kita lihat pada perintah jika, perintah ini akan memeriksa kondisi yang terjadi. kondisi itu berupa operasi-operasi perbandingan atau operasi lainnya yang jika dioperasikan nilainya menghasilkan nilai benar atau salah. Benar jika kondisi tersebut terjadi, sedangkan salah bila kondisi tidak terjadi. Sedangkan perintah simak yang akan kita bahas akan mengambil nilai dari variabel atau hasil operasi yang menghasilkan nilai eksak untuk kemudian dibandingkan dengan nilai-nilai yang ada. Masih bingung? ok, kita langsung praktikkan

Misal kita mempunyai variabel a dengan input dari user. Jika variabel a bernilai 0 maka kita akan menampilkan “Nol”. Jika 1 maka “Satu”. Jika 2 maka “Dua”.

a : angka

baca(a)

simak a <

saat 0: tulis(“Nol”)

saat 1: tulis(“Satu”)

saat 2: tulis(“Dua”)

>

Dapat kita lihat bahwa perintah simak akan mengambil nilai dari variabel a. Kemudian secara bertahap program akan mencocokkan dengan nilai-nilai yang kita definisikan. Saat program menemukan nilai yang cocok maka ia akan segera mengeksekusinya.Bentuk umum dari operasi simak adalah:

simak nama-variabel <

saat nilai-1: statement-jika-nilai-1

saat nilai-2: statement-jika-nilai-2

..

saat nilai-n: statement-jika-nilai-n

>

Perintah di atas jika dijabarkan dalam notasi jika menjadi

jika a = 0 maka tulis(“Nol”)

lainnya jika a = 1 maka tulis(“Satu”)

lainnya jika a = 2 maka tulis(“Dua”)

Sekarang kita akan coba translasikan ke dalam bahasa pascal dan C

perintah jika dengan 1 kondisi dalam pascal menjadi:

if kondisi then statement;

Sedangkan untuk 2 kondisi atau lebih menjadi:

if kondisi-1 then statement-1

else if kondisi-2 then statement-2

else statement;

Harap diperhatikan juga, penulisan statement sebelum perintah else tidak boleh diakhiri dengan titik koma “;”. Mengakhiri dengan titik koma hanya ada di statement paling akhir.

Untuk bentuk simak dalam pascal:

case variabel of

nilai-1: statement;

nilai-2: statement;

..

nilai-n: statement;

end;

Untuk membuat blok baru pada seleksi kondisi gunakan kata begin dan end untuk mengapit statement-statement yang ingin dijadikan 1.

Dalam C, kita dapat mentranslasikan perintah jika ke dalam bentuk:

if ( kondisi ) statement;

harap diperhatikan bahwa kondisi selalu diletakkan dalam kurung / di antara ( dan ).

Sedangkan untuk statement multibaris dapat ditulis sebagai:

if (kondisi-1) statement-1;

else if(kondisi-2) statement-2;

else statement;

Bahasa C selalu konsisten dengan aturan bahwa setiap perintah selalu diakhiri titik koma. Jangan lupa titik koma ya🙂

Sedangkan translasi untuk perintah simak adalah:

switch (variabel) {

case nilai-1: statement; break;

case nilai-2: statement; break;

..

case nilai-n: statement; break;

}

Apa itu perintah break? Break adalah perintah untuk mengakhiri statement case pada nilai bersangkutan. Jika tidak diakhiri, program akan meneruskan eksekusi ke baris perintah di bawahnya.

3 Comments

  1. gak hanya bahas soal sintak, tapi logikanya juga dijelasin,
    sipp-sipp ^^8, lanjutkan..

    • Thanks😀

      Saya coba ngelanjutin serinya, kalo memungkinkan dan punya waktu luang😀
      hehehe ^^

Trackbacks

  1. Seri Belajar Pemrograman #5 « Another Satria's Project

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: